Budgeting

Cara Mengatur Gaji Bulanan Biar Nggak Habis di Tengah Bulan

Gajiku dulu selalu habis sebelum tanggal 20. Ini sistem mengatur gaji bulanan yang akhirnya berhasil untukku, lengkap dengan contoh pembagian dan langkahnya.

Foto oleh Nick Brito

Aku masih ingat rasanya tanggal 18 dan saldo rekening sudah menipis, padahal gajian masih dua minggu lagi. Anehnya, aku tidak merasa boros. Tidak beli barang mahal, tidak sering jalan-jalan. Uangnya hilang begitu saja, tanpa jejak.

Ternyata masalahnya bukan di jumlah gajiku. Masalahnya, aku tidak punya sistem. Setelah beberapa kali gagal, aku menemukan cara mengatur gaji bulanan yang akhirnya bertahan sampai sekarang. Di artikel ini aku bagikan sistemnya, langkah demi langkah.

Kenapa gaji cepat habis padahal merasa tidak boros

Sebelum masuk ke solusi, penting paham dulu akar masalahnya. Dari pengalamanku, gaji cepat habis biasanya karena tiga hal:

  1. Pengeluaran kecil yang tidak terasa. Kopi, ojek online, jajan di minimarket. Satu transaksi terlihat murah, tapi sebulan bisa jadi ratusan ribu.
  2. Tidak ada pos yang jelas. Semua uang tinggal di satu rekening, jadi sulit membedakan mana uang makan, mana uang tabungan, mana uang senang-senang.
  3. Menabung dari sisa. Ini kesalahan klasikku dulu. Niatnya menabung di akhir bulan dari uang yang tersisa. Kenyataannya, tidak pernah ada sisa.

Sistem yang baik menyelesaikan ketiganya sekaligus.

Kenal dulu rumus 50/30/20

Kerangka yang aku pakai adalah aturan 50/30/20. Sederhananya, gaji bersih dibagi tiga pos besar:

Pos Porsi Isinya
Kebutuhan 50% Kos, makan, transportasi, listrik, internet, cicilan wajib
Keinginan 30% Nongkrong, langganan streaming, hobi, jajan
Tabungan dan investasi 20% Dana darurat, reksadana, tujuan finansial

Contoh dengan gaji bersih Rp5 juta: Rp2,5 juta untuk kebutuhan, Rp1,5 juta untuk keinginan, dan Rp1 juta untuk tabungan serta investasi.

Satu hal yang aku pelajari: angka ini bukan hukum mati. Kalau kamu tinggal di kota besar dengan biaya kos tinggi, kebutuhanmu mungkin 60% atau 65%. Tidak apa-apa. Yang penting pos tabungan tidak nol, sekecil apa pun porsinya. Mulai dari 10% pun sah.

Langkah 1: Hitung gaji bersih dan pengeluaran wajib

Ambil satu jam di akhir pekan, lalu tulis dua daftar:

  • Gaji bersih, yaitu uang yang benar-benar masuk rekening setelah potongan.
  • Pengeluaran wajib bulanan, seperti kos, transportasi ke kantor, kuota, dan makan harian. Perkirakan seakurat mungkin.

Dari sini kamu langsung tahu porsi kebutuhanmu sebenarnya berapa persen. Buatku dulu, momen ini cukup mengagetkan, karena ternyata “jajan kecil-kecil” masuk kategori keinginan dan jumlahnya hampir sama dengan uang makanku.

Langkah 2: Pisahkan uang di rekening berbeda

Ini perubahan paling berdampak yang aku lakukan. Uang yang tercampur akan saling memakan. Solusinya, pisahkan secara fisik:

  • Rekening utama untuk kebutuhan. Gaji masuk ke sini, tagihan keluar dari sini.
  • Rekening atau dompet digital khusus untuk keinginan. Isi sekali di awal bulan, dan saat habis ya sudah, tunggu bulan depan.
  • Rekening terpisah tanpa kartu ATM untuk tabungan dan investasi. Semakin sulit diakses, semakin baik.

Banyak bank digital sekarang gratis biaya admin dan punya fitur kantong terpisah, jadi kamu tidak perlu benar-benar membuka tiga rekening di bank berbeda.

Langkah 3: Otomatiskan di tanggal gajian

Prinsip yang mengubah segalanya untukku: bayar dirimu sendiri dulu. Artinya, tabungan dan investasi dipindahkan di hari gajian, sebelum uangnya sempat terpakai.

Caranya, pasang transfer otomatis atau auto-debit dari rekening utama ke rekening tabungan setiap tanggal gajian. Dengan begitu, menabung tidak lagi bergantung pada niat dan disiplin. Sistem yang bekerja, bukan willpower.

Kalau kamu mau uang tabungan itu mulai bertumbuh, aku pernah menulis cara memulai investasi untuk pemula yang bisa jadi langkah lanjutannya.

Langkah 4: Catat pengeluaran, minimal satu bulan

Aku tahu ini bagian yang paling sering di-skip. Tapi mencatat pengeluaran itu seperti menimbang badan saat diet: tanpa data, kamu hanya menebak-nebak.

Tidak perlu rumit dan tidak perlu selamanya. Cukup satu sampai dua bulan pakai aplikasi pencatat keuangan gratis atau catatan di ponsel. Tujuannya satu: menemukan kebocoran terbesarmu. Setiap orang bocornya beda. Punyaku dulu ojek online dan jajan kopi. Punyamu mungkin beda lagi.

Setelah ketemu, kamu tidak harus menghapusnya total. Cukup beri jatah. Kopi tetap boleh, tapi pakai anggaran pos keinginan.

Langkah 5: Evaluasi ringan setiap akhir bulan

Sistemku ditutup dengan ritual 15 menit setiap akhir bulan. Tiga pertanyaan saja:

  1. Pos mana yang jebol, dan kenapa?
  2. Apakah porsi 50/30/20 masih realistis untuk bulan depan?
  3. Ada pengeluaran besar yang harus disiapkan bulan depan?

Evaluasi ringan ini membuat sistemnya hidup. Anggaran yang tidak pernah dievaluasi biasanya ditinggalkan diam-diam.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Gajiku UMR, apakah masih bisa pakai sistem ini? Bisa, dengan penyesuaian porsi. Mungkin kebutuhanmu 65% dan tabungan 5% dulu. Itu tetap jauh lebih baik daripada 0%. Sistemnya sama, angkanya menyesuaikan.

Bagaimana dengan pemasukan tidak tetap, misalnya freelance? Pakai patokan pemasukan bulanan terendahmu sebagai dasar anggaran. Saat pemasukan lebih besar, kelebihannya langsung masuk tabungan.

Aplikasi apa yang sebaiknya dipakai untuk mencatat? Yang paling gampang kamu buka setiap hari. Aplikasi tercanggih pun tidak berguna kalau malas membukanya. Catatan ponsel biasa pun cukup untuk memulai.

Sistem sederhana yang dijalankan mengalahkan sistem sempurna yang ditunda

Mengatur gaji bulanan itu bukan soal pelit atau menyiksa diri. Justru sebaliknya, sistem yang jelas membuat kamu bisa jajan dan bersenang-senang tanpa rasa bersalah, karena semuanya sudah ada jatahnya.

Mulai dari langkah 1 akhir pekan ini. Satu jam untuk menghitung, lima menit untuk memasang transfer otomatis, dan gajimu bulan depan sudah punya arah yang jelas.

Dan kalau setelah dihitung-hitung gajimu memang terasa terlalu kecil untuk dibagi, kadang jawabannya bukan di anggaran, tapi di pemasukan. Aku menulis cara negosiasi gaji untuk fresh graduate untuk sisi yang satu itu.